Ilustrasi Cerpen Horor

Ilustrasi Cerpen HororKumpulan cerita hantu nyata menyeramkan pasti sudah bnyak yang tau , Banyak orang mempunyai agenda padat serta tidak luang membaca roman serta narasi Jauh yang lain. Tetapi janganlah takut, bila Kamu salah satu orang itu tetapi menginginkan konsumsi hiburan, Kamu dapat membaca cerpen.

Bila Kamu penggemar narasi horor, banyak ilustrasi cerpen horor yang dapat Kamu baca di internet yang sedia membuat bulu kudukmu berdiri. Selanjutnya ilustrasi cerpen horor yang sangat ngeri dengan ceruk membentangkan serta buat merinding yang dikutip dari bermacam pangkal:

” Ahahaha, iya betul betul!” asyik ku suka. Saya lagi menelepon temanku, Pia. Kita mulai menelepon dikala jam sebelas malam.

Saya melihat jam bilik di kamar kost ku, telah jam satu melalui. Sering- kali, gibah untuk perempuan itu mengasyikkan, alhasil membuat kurang ingat durasi. Saya terkenang hendak mata kuliah pagiku esok.

“ Pi, udahan dahulu, ayo. Saya terdapat matkul esok pagi, diajar nya serupa Pak Yos pula. Kalau terlambat, hilang nyawa saya,” cakap ku. Pia menyepakati ku, seakan paham alangkah galaknya dosen ku pagi esok.

“ Yaudah, candu Pia Pia. Berguling ku telah ingin ngajak ngapel nih,” banyolan ku. Pia tersimpul.“ Batin batin dengan perkataan mu,” meledekmencela Pia.

Sehabis melafalkan‘ candu’ berkali kali, akhir nya sambungan telepon putus. Saya menggeletakkan tubuhku di kasur serta menarik selimut sampai dada.

Saya membuka handphone, mau main sesaat dengan barang ceper itu saat sebelum kesimpulannya rasa kantuk melanda mataku.

Saya bergulung dibawah selimut, melekap berguling benyek yang menemaniku sepanjang saya bermukim di kost ini. Lama- lama saya memejamkan mata, mulai membuka kilas kilas mimpi dialam dasar sadarku.

Eh?

Bau apa ini?

Saya mengendus, mengesun bau pandan yang melatis hebat di dalam kamarku. Semenjak bila terdapat pandan di kamar ku?

Saya dengan berat kaki membuka mata. Aih, bau ini sedemikian itu menusuk, menganggu respirasi ku.

Saya bersandar ditepi kasur dengan goyang, bernazar buat minum air. Seteguk, 2 teguk. Saya meletakkan cangkir sehabis menenggak air yang ke 4.

Saya kembali ke kasur, kemudian berupaya tidur, lagi. Bau pandan itu terus menjadi akut. Seakan bau itu terletak di dekatku.

Saya menutup hidung dengan gulingku, senantiasa positif thinking kalau bau pandan itu dari musang pandan yang bisa jadi terdapat diatap. Esok saya wajib memerintahkan Mang Usep mengecek asbes.

Sia- sia, gulingku yang harum apalagi tidak sanggup menaklukkan bau bau tidak nikmat ini. Saya mendengus jengkel, mau tidur juga sulit sangat.

“ Bau sangat sih, buat mual aja,” decakku jengkel. Musang nya terdapat berapa sih? Satu? 2? Mengapa bau sekali?

Saya akan memejamkan mata lagi dikala saya merasakan bulu kudukku meremang. Pikiranku mulai kalut, tidak hening. Astaga, berasumsi positif, Dira. Berasumsi positif.

Hawa dingin menusuk leherku. Seolah belum lumayan membuatku kekhawatiran, saya merasakan suatu memeperhatikan ku dari jauh.

Saya berupaya bodo amat serta menutup semua badan ku dengan selimut. Saya seolah mau mati dari bumi ini kala selimutku ditarik menuntut serta memandang wujud besar semacam berguling yang mesem luas, menampilkan mata berlubang, wajah berdarah, berbisul, serta bernga dimana mana.

Wujud itu mesem sedemikian itu luas, seakan mencabik mukanya sendiri. Saya percaya saya pingsan sehabis wujud itu melafalkan perkataan yang tidak hendak sempat saya lupakan.

“ Saya nungguin dari mulanya loh, kita kan ingin jalur.”

Leave a Comment